Hallo
november....
Bulan
kesebelas , itu artinya sebulan lgi akan ada perayaan pergantian tahun. Akan banyak
hal hal baru , akan ada cerita baru untuk tahun yang baru. Tapi kali ini
berbeda.
Novemberku
kelabu......
Kelabu
untuk ku..
Untuk
papahku...
Untuk
mamahku..
Dan
untuk keluarga besar..
Yah,
november tepat sepuluh tahun yang lalu tepatnya 18 11 2005, adikku di panggil
oleh sang pencipta. Namanya R.A Dwi Retno Septiningtias (Eno) , lahir tanggal
14 september 1994, dia anak yang periang, suka tertawa, supel dan banyak
temennya. Berbeda denganku yang agak diam dan enggak begitu terlalu cepat akrab
dengan orang lain.
Waktu
itu , papah dan mamah Cuma punya dua anak perempuan yaitu aku dan eno. Yah enggak
aku pungkiri, dua anak perempuan yang Cuma beda setahun dengan usia belasan
tahun seperti kami pasti sering berantem , mamah jadi sering memarahi kita
berdua kalau kita lagi berantem, pelariannya ke papah (minta perlindungan ke
papah). Tapi gak hanya berantem , kita berdua itu ada waktunya buat akur , kita
tiap hari berangkat kesekolah bareng , main bareng, bahkan nyolong jambu
tetangga bareng hehehe. Kita berdua juga kompak dalam urusan rahasia, ketika
salah satu dari kita merusak alat make up mamah (lipstik) kita berdua enggak
ada yang mau ngaku walaupun salah satu dari kita lah yang mematahkan lipstik
mamah, alhasil kami berdua di jewer mamah L (tapi kita
berdua cuman ketawa cekikikan) karena merasa berhasil menyembunyikan dari mamah
kalau salah satu dari kita yang melakukannya.
2005,
eno jatuh sakit. Sakit yang awalnya dianggap sakit kepala biasa ternyata
setelah di periksakan kedokter eno kena DBD (demam berdarah) ia di rawat di
RSUD maros selama 2 minggu , tapi tidak ada hasil malah keadaannya semakin
memburuk , eno di pindahkan ke rumah sakit yang peralatannya lebih lengkap,
setelah di cek eno tidak hanya DBD, ia juga kena tifus dan ada cairan di paru
paru makanya ia sering batuk dan susah bernafas. Dia di rawat di RS itu hampir
sebulan, mamah dan papah yang ngejagain eno ketika ia di rumah sakit, papah
ijin dari kantor untuk ngerawat adikku di RS. Mamah papah dan adikku berlebaran
idul fitri di rumah sakit , yah dari pertengahn puasa adikku di rawat di RS.
Aku
datang menjenguk sebisa eang kakung dan eang putri membawaku ke RS, jarak rumah
ke RS tempat adikku di rawat lumayan jauh satu jam perjalanan naik kendaraan. Aku
juga musti sekolah jadi tidak boleh nginap di RS. 3 minggu di rawat di RS
keadaan adikku membaik dan dokter bilang kalau dia udah bisa pulang. Tetapi tiga
hari adiku di rumah , tengah malam ia mulai batuk . awalnya hanya batuk biasa,
lama kelamaan dia makin batuk keluar darah aku tau sakit yang di derita adikku
itu sangat parah, malam itu juga adikku langsung di bawah ke rumah sakit. Eno di
masukkan ke ruang ICU . seminggu adikku
di rawat intensif di ruang ICU lalu ia di pindahkan ke ruang perawatan.
Hari
minggu aku datang menjenguknya, keliatannya adikku sudah agak mendingan tapi
nyatanya penglihatannya terganggu (penglihatannya kurang jelas) aku yang saat
itu Cuma sampai di dapan pintu kamar balik badan dan duduk di kursi yang
letaknya tak jauh dari ruangan adikku di rawat. Aku duduk menunduk dan selelu
ada bayang-bayang kalau adikku hidupnya tidak lama lagi. Well, aku hrus menemui
adikku di ruang perawatan. Aku bergegas jala ke ruang perawatan sambil menyeka
airmata, jangan sampai orang orang diruangan meihat aku menangis termasuk
adikku.
Sesampainya
di ruangan tempat adikku di rawat , kita ngobrol ngobrol santai dan sempat
bercandaan. Aku bilang eno makin cantik, agak kurusan dan kulitnya makin putih
karena enggak pernah terkena sinar matahari, adikku hanya senyum dan menyeka
rambutnya ke belekang daun telinga. Sore aku dan eang pamit pulang, adikku
bilang tidak usah pulang biar rame katanya . tapi aku besok musti sekolah dan papah
enggak ngijinin kalau aku musti bolos sekolah. Sore itu aku dan eang balik ke
rumah.
Hari
itu, jum’at 18 november 2005, aku baru pulang dari sekolah entah kenapa aku
sangat lelah bahkan diajak untuk kerumah sakit nengokin adikku aku tidak mau,
pikirku aku lebih baik pergi besok sabtu agar bisa nginap di RS. Tanteku berangkat
pukul satu dari rumah, ternyata di jalan sangat macet dan entah kenapa tumben
jalan menuju RS itu macetnya minta ampun. Tante tiba di rumah sakit pas adzan
ashar, begitu tiba di pintu kamar tempat adikku di rawat papah bilang ke tante,
ponakan mu udah enggak ada dia udah di panggil sang pencipta, ternyata allah
lebih sayang sama eno. Tante Cuma bisa terduduk lemas dan nagis di sebelah
jenazah almarhumah.
Sore
itu , seperti biasa aku main di rumah temanku. Tiba tiba ada seorang lagi teman
ku yang datang , tapi dengan raut muka yang gak seperti biasanya dia keliatan
panik dan bingung. Dia agak lama berdiri di deapnku, aku tanya dia kenapa dan
dia hanya menatapku dengan masih raut muka yang sama. Setelah aku memaksa dia
akhirnya ngomong , ibunya dapat kabar dari rumah sakit kalau adikku eno sudah
tiada. Spontan aku memukulnya, aku rasa itu lelucon yang sangat tidak lucu. dia
hanya menatapku dan bilang, ayo ke rumah tantemu sekarang orang orang pada
kumpul disana untuk kerumah eangmu, karena almarhumah akan tiba di rumah eang
sebelum maghrib.
Aku
yang tidak kuasa menahan badanku karena tiba tiba lututku terasa lemas dan kaki
ku tidak kuat untuk menopang badanku. Temanku memapah sampai ke rumah tante, di
rumah tante aku nangis se jadi jadinya . orang orang berusaha menenangkan aku,
aku langsung di bawa ke rumah eang untuk menanti jenazah almarhumah. Sementara
keluarga sibuk membereskan ruang tamu untuk tempat jenazah di semayamkan, aku
hanya duduk dan menerawang ke hari hari sebelum adikku masuk ke rumah sakit. Di
mana aku bermain dengannya, aku masih berharap yang turun dari mobil itu bukan
jenazah, tapi yang tirun dari mobil itu adikku, adikku yang sehat walafiat,
adikku yang periang, adikku yang slalu tersenyum kepada semua orang.
Terdengar
serene ambulance dari jauh, omku yang saat itu berdiri di pekarangan berlari
kecil membuka gerbang untuk ambulance berwarna putih itu. papah yang duluan
turun dari ambulance terlihat berusaha tegar dan menghampiri dan langsung
memelukku erat “mbak adik udah enggak ada allah lebih sayang sama eno” bersamaan dengan di turunkannya jenazah dari
mobil ambulance tangis keluarga pecah, aku yang dari tadi nangis terisak
dipapah papah masuk ke dalam ruamah. Mamah yang tidak bisa menahan sedih ,
tidak dapat menahan tangis beberapakali hampir pingsan . aku hanya bisa duduk
nangis di sebah almarhumah, aku menatap wajahnya adikku tidak seperti orang
yang meninggal dia seperti orang tertidur , mukanya bercahaya dan dia tersenyum
. papah bilang ke aku , tadi sebelum adik pergi ia pamit ke papah , katanya dia
udah gak kuat minta di ikhlaskan pergi makanya aku gak boleh nangis. Mndengar itu
aku berusaha menahan tangis, ya walaupun iyu tidak berhasil.
Jezah
almarhum di makamkan esoknya , karena menunggu eang (ibu dari papah) yang
tinggal di madura. Malam hari ketika orang-orang dewasa bercerita tentang
almarhum ketika ia masih hidup bagaimana cerianya almarhum , jailnya almarhumah hingga sakitnya almarhum sebelum ia tutp usia. Aku duduk di sebalah almarhum,
menatap wajah adikku dalam dalam yang besok akan masuk keliang lahat dan tidak
akan ku kulihat lagi untuk selamanya. Aku tidur di seebelah almarhumah hingga
esok tiba. Jenazah di mandikan dan di bawa kepemakaman, hujan pun ikut
mengantarkan jenazah almarhumah ke liang lahat. Adikku di makamkan di pemakaman
umum dekat rumah eang.
Untuk
terakhir kalinya aku melihat wajah adikku, selamat jalan adik , tenang dialam
sana , kamu nanti yang akan menjemput papah mamah ke surga.. amin...
Tepat tanggal ini sepuluh tahun yang
lalu (18112005-18112015)
Duka mendalam untuk keluargaku ..
Mamah dan papah kehilangan anak
perempuannya yang ceria..
Aku kehilangan adikku...
Hanya do’a yang dapat menjadi tali
silaturahmi untuk kita..
Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat..
Menahan rindu untuk waktu yang lama..
Kami semua rindu retno..
Kami semua sayang sama retno..
Tetapi allah lebih sayang sama kamu
dik..
REST IN PEACE, we still love you, we
still remember you :’)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar